Sabtu, 25 Januari 2014

CU TYAS MANUNGGAL






 CU Tyas Manunggal adalah Sebuah Lembaga keuangan berbasis koperasi didaerah Bantul Selatan yang mengedepankan Kepentingan anggota. Sebuah koperasi yang pengelolaanya berdasar atas Hati Nurani, Tidak semata mata mencari keuntungan. Oleh karenanya CU Tyas Manunggal mempu menjaring anggota dengan cepat yang berasal dari bergagai daerah, suku dan agama. 

DEFINISI è Hidup Akan Lebih Oke adalah istilah lain dari “SEJAHTERA” menurut CUTM.
INDIKATOR/TANDA  è Tersenyum di setiap kebutuhan hidup. Setiap orang akan menjumpai suatu kebutuhan umum yang sama (menjadi bayi, makan, sekolah, membangun rumah tangga, memasuki masa tua , meninggal dsb dan berusaha agar terpenuhi ).
UKURAN è Berusaha menabung/Memiliki  tabungan pada setiap tahapan kehidupan agar pada saatnya dibutuhkan telah tersedia.
STRATEGI :
1.    Fokus Grup Simbiosis (FGS) adalah Pengelompokan Anggota menurut PROFESI atau MINAT yang akan dikembangkan melalui PENDIDIKAN LANJUT , difasilitasi oleh seorang KOORDINATOR  yang memiliki kompetensi. 
2.    Pendidikan/Pembekalan Koordinator FGS agar memiliki kapasitas dalam Motivasi maupun  Solusi teknis agar seluruh Anggota FGS berkembang
3. .Pendampingan & Dinamisasi Anggota di setiap Grup
3.              .


PRINSIP CREDIT UNION

Ada 9 prinsip yang dirumuskan dan disepakati dalam Forum Credit Union yang diselenggarakan oleh WOCCU :
  1. Keanggotaan yang terbuka dan sukarela, bagi semua orang yang bersedia menerima tanggung jawab keanggotannya tanpa membedakan jenis kelamin, ras, politik, maupun agama
  2. Dikontrol secara demokratis oleh anggota, yang mempunyai hak yang sama (satu anggota satu suara) dan berperan dalam pengambilan keputusan tanpa dipengaruhi jumlah sahamnya.
  3. Tidak dikriminatif, karena credit union tidak membedakan anggota dari suku, kebangsaan, jenis kelamin, agama, maupun politik
  4. Pelayanan kepada anggota, ditujukan untuk meningkatkan ekonomi seluruh anggotanya dengan mempertahankan azas dari, oleh, dan untuk anggota.
  5. Distribusi kepada anggota, mendorong sikap hemat dengan cara menabung dan penyediaan pinjaman serta pelayanan lainnya. Surplus yang diperoleh dibagikan kepada seluruh anggota sebanding dengan transaksinya sebagai balas jasa saham dan balas jasa pinjaman. Balas jasa yang diberikan kepada anggota harus sebanding dengan besarnya modal saham yang dimilikinya dan partisipasinya dalam mengembangkan usaha credit union.
  6. Membangun stabilitas keuangan, untuk membangun kekuatan financial, termasuk pembentukan cadangan yang memadai dan internal control yang memastikan pelayanan yang berkesinambungan kepada seluruh anggota
  7. Pendidikan yang terus menerus bagi seluruh anggota, pengurus, pengawas dan manajemen serta masyarakat luas tentang ekonomi, social, dan demokrasi dan prinsip kerja sama dan saling membantu dalam credit union, termasuk pengelolaan keuangan, hidup hemat, dan penggunaan pinjaman secara bijaksana.
  8. Kerjasama antar lembaga pada tingkat local, nasional, dan internasional dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada anggota
  9. Tanggung Jawab Sosial dalam menjunjung pembangunan manusia dan hubungan sosialnya.

SEJARAH CREDIT UNION
Sejarah koperasi kredit dimulai pada abad ke-19. Ketika Jerman dilanda krisis ekonomi karena badai salju yang melanda seluruh negeri. Para petani tak dapat bekerja karena banyak tanaman tak menghasilkan. Penduduk pun kelaparan.


Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga yang sangat tinggi. Sehingga banyak orang terjerat hutang. Oleh karena tidak mampu membayar hutang, maka sisa harta benda mereka pun disita oleh lintah darat.
Kemudian tidak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia diambil alih oleh mesin-mesin. Banyak pekerja terkena PHK. Jerman dilanda masalah pengangguran secara besar-besaran.

Melihat kondisi ini wali kota Flammersfield, Friedrich Wilhelm Raiffeisen merasa prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia mengundang orang-orang kaya untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan uang dan roti, kemudian dibagikan kepada kaum miskin.
Ternyata derma tak memecahkan masalah kemiskinan. Sebab kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang keliru. Penggunaan uang tak terkontrol dan tak sedikit penerima derma memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya, para dermawan tak lagi berminat membantu kaum miskin.
Raiffeisen tak putus asa. Ia mengambil cara lain untuk menjawab soal kemiskinan ini. Ia mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman untuk dibagi-bagikan kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini pun tak menyelesaikan masalah. Hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu seterusnya.
Berdasar pengalaman itu, Raiffeisen berkesimpulan: “kesulitan si miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri. Si miskin harus mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan yang produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si peminjam.”
Untuk mewujudkan impian tersebutlah Raiffeisen bersama kaum buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi bernama Credit Union (CU) artinya, kumpulan orang-orang yang saling percaya.
Credit Union yang dibangun oleh Raiffeisen, petani miskin dan kaum buruh berkembang pesat di Jerman, bahkan kini telah menyebar ke seluruh dunia.
Semakin pesatnya perkembangan dan persaingan dunia perbankan, mengakibatkan banyaknya lembaga - lembaga keuangan bermunculan dan berjamur dikota - kota besar maupun kecil. Hal ini membuat para nasabah bingung untuk memilih lembaga keuangan mana yang cocok, aman dan terpercaya.

2 komentar:

  1. Font berwarna kuning dalam artikel ini, tidak bisa tampil baik dan dibaca. Apakah bisa diganti menjadi warna hitam saja? Terimakasih. Salam CU!

    BalasHapus

MOHON KOMENTARNYA BERHUBUNGAN DENGAN ARTIKEL YANG ADA.